skip to main |
skip to sidebar
1.
TEORI
BELAJAR BRUNER
1) KONSEP
TEORI BELAJAR BRUNER
Dasar pemikiran teori Bruner
memandang bahwa manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi.
Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan
manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya.
Ada tiga proses kognitif yang
terjadi dalam belajar, yaitu (1) proses perolehan informasi baru, (2) proses
mentransformasikan informasi yang diterima dan (3) menguji relevansi dan
ketepatan pengetahuan. Menurut Bruner (dalam Hudoyo,1990:48) belajar matematika
adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang
terdapat di dalam materi yang dipelajari, serta mencari hubungan antara
konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. Bruner, melalui teorinya
itu, mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan
memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan
dapat diotak-atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika.
1.
Model Tahap Enaktif
Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan
anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. Pada
tahap ini anak belajar sesuatu pengetahuan dimana pengetahuan itu dipelajari
secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan situasi
yang nyata, pada penyajian ini anak tanpa menggunakan imajinasinya atau
kata-kata.
2.
Model Tahap Ikonik
Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu
pengetahuan dimana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk
bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang
menggambarkan kegiatan kongkret yang terdapat pada tahap enaktif. Dalam tahap
ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana
pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang
dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari
objek-objek yang dimanipulasinya.
3.
Model Tahap Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak
memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Pada tahap
simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak
(abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan
kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol
verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang
matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
Sebagai contoh, dalam mempelajari penjumlahan dua
bilangan cacah, pembelajaran akan terjadi secara optimal jika mula-mula siswa
mempelajari hal itu dengan menggunakan benda-benda konkret (misalnya
menggabungkan 3 kelereng dengan 2 kelereng, dan kemudian menghitung banyaknya
kelereng semuanya ini merupakan tahap enaktif). Kemudian, kegiatan belajar
dilanjutkan dengan menggunakan gambar atau diagram yang mewakili 3 kelereng dan
2 kelereng yang digabungkan tersebut (dan kemudian dihitung banyaknya kelereng
semuanya, dengan menggunakan gambar atau diagram tersebut/ tahap yang kedua
ikonik, siswa bisa melakukan penjumlahan itu dengan menggunakan pembayangan
visual dari kelereng tersebut. Pada tahap berikutnya yaitu tahap simbolis,
siswa melakukan penjumlahan kedua bilangan itudengan menggunakan
lambang-lambang bialngan, yaitu : 3 + 2 = 5.
2)
FASE BELAJAR MENURUT BRUNER
Pendirian
yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa setiap mata
pelajaran dapat diajarakan dengan efektif dalam bentuk yang jujur secara
intelektual kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya.
Pendiriannya ini didasarkan sebagian besar atas penelitian Jean Piaget
tentang perkembangan intelektual anak. Berhubungan dengan hal itu, antara lain:
Perkembangan intelektual anak
Menurut
penelitian J. Piaget, perkembangan intelektual anak dapat dibagi
menjadi tiga taraf.
1.
Fase
pra-operasional,
sampai usia 5-6 tahun, masa pra sekolah, jadi tidak berkenaan dengan anak
sekolah. Pada taraf ini ia belum dapat mengadakan perbedaan yang tegas antara
perasaan dan motif pribadinya dengan realitas dunia luar. Karena itu ia belum
dapat memahami dasar matematikan dan fisika yang fundamental, bahwa suatu
jumlah tidak berunah bila bentuknya berubah. Pada taraf ini kemungkinan untuk
menyampaikan konsep-konsep tertentu kepada anak sangat terbatas.
2.
Fase
operasi kongkrit, pada
taraf ke-2 ini operasi itu “internalized”, artinya dalam menghadapi suatu
masalah ia tidak perlu memecahkannya dengan percobaan dan perbuatan yang nyata;
ia telah dapat melakukannya dalam pikirannya. Namun pada taraf operai kongkrit
ini ia hanya dapat memecahkan masalah yang langsung dihadapinya secara nyata.
Ia belum mampu memecahkan masalah yang tidak dihadapinya secara nyata atau
kongkrit atau yang belum pernah dialami sebelumnya.
3.
Fase
operasi formal, pada
taraf ini anak itu telah sanggup beroperasi berdasarkan kemungkinan hipotesis
dan tidak lagi dibatasi oleh apa yang berlangsung dihadapinya sebelumnya.[1]
3) TEOREMA /
DALIL BRUNER
1.
Dalil Konstruksi / Penyusunan (Contruction Theorem)
Di dalam teorema kontruksi dikatakan bahwa cara yang terbaik
bagi seseorang siswa untuk mempelajari sesuatu atau prinsip dalam Matematika
adalah dengan mengkontruksi atau melakukan penyusunan sebagai sebuah
representasi dari konsep atau prinsip tersebut. Jika para siswa bisa
mengkontuksi sendiri representasi tersebut mereka akan lebih mudah menemukan
sendiri konsep atau prinsip yang terkandung dalam representasi tersebut,
sehingga untuk selanjutnya mereka juga mudah untuk mengingat hal-hal tesebut
dan dapat mengaplikasikan dalam situasi-situasi yang sesuai. Contohnya, anak
mempelajari konsep perkalian yang didasarkan pada prinsip penjumlahan berulang,
akan lebih memahami konsep tersebut. Jika anak tersebut mencoba sendiri
menggunakan garis bilangan untuk memperlihatkan proses perkalian tersebut.
2.
Dalil Notasi (Notation Theorem)
Menurut apa yang dikatakan dalam terorema notasi,
representasi dari sesuatu materi matematika akan lebih mudah dipahami oleh
siswa apabila di dalam representasi itu digunakan notasi yang sesuai dengan
tingkat perkembangan kognitif siswa. Sebagai contoh, untuk siswa sekolah dasar,
yang pada umumnya masih berada pada tahap operasi kongkret, soal berbunyi;
”Tentukanlah sebuah bilangan yang jika ditambah 3 akan menjadi 8”, akan lebih
sesuai jika direpresentasikan dalam diberikan bentuk ... + 3 = 8 atau + 3 = 8
atau a + 3 = 8
3.
Dalil Kekontrasan dan Variasi (Contrast and Variation Theorem)
Di dalam teorema kekontrasan dan variasi dikemukakan bahwa
sesuatu konsep Matematika akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila konsep
itu dikontraskan dengan konsep-konsep yang lain, sehingga perbedaan antara
konsep itu dengan konsep-konsep yang lain menjadi jelas.
Selain itu di dalam teorema ini juga disebutkan bahwa pemahaman
siswa tentang sesuatu konsep matematika juga akan menjadi lebih baik apabila
konsep itu dijelaskan dengan menggunakan berbagai contoh yang bervariasi.
Misalnya, dalam pembelajaran konsep persegipanjang, persegipanjang sebaiknya
ditampilkan dengan berbagai contoh yang bervariasi. Misalnya ada persegipanjang
yang posisinya bervariasi (ada yang dua sisinya behadapan terletak horisontal
dan dua sisi yang lain vertikal, ada yang posisinya miring, dan sebagainya),
ada persegipanjang yang perbedaan panjang dan lebarnya begitu mencolok, dan ada
persegipanjang yang panjang dan lebarnya hampir sama, bahkan ada persegipanjang
yang panjang dan lebarnya sama. Dengan digunakannya contoh-contoh yang
bervariasi tersebut, sifat-sifat atau ciri-ciri dari persegi panjang akan dapat
dipahami dengan baik. Dari berbagai contoh tersebut siswa akan bisa memahami
bahwa sesuatu konsep bisa direpresentasikan dengan bebagai contoh yang
spesifik. Sekalipun contoh-contoh yang spesifik tersebut mengandung perbedaan
yang satu dengan yang lain, semua contoh (semua kasus) tersebut memiliki
ciri-ciri umum yang sama.
4.
Dalil Konektivitas atau Pengaitan (Connectivity Theorem)
Di dalam teorema konektivitas disebutkan bahwa setiap
konsep, setiap prinsip, dan setiap ketrampilan dalam matematika berhubungan
dengan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan ketrampilan-ketrampilan yang lain.
Keempat dalil tersebut di atas tidak dimaksudkan untuk
diterapkan satu per satu seperti di atas. Dalam penerapan (implementasi), dua
dalil atau lebih dapat diterapkan secara bersaa dalam proses pembelajaran
sesuatu materi matematika tertentu. Hal tersebut bergantung pada karakteristik
dari materi atau topik matematika yang dipelajari dan karakteristik dari siswa
yang belajar. Misalnya konsep Dalil Pythagoras diperlukan untuk menentukan
Tripel Pythagoras.
2. TEORI
BELAJAR VAN HIELE
1)
KARAKTERISTIK
TEORI BELAJAR VAN HIELE
Selain adanya tahap-tahap
perkembangan mental anak dalam belajar, terdapat juga karakteristik dalam
geometri. Clements dan Battista (mengemukakan beberapa karakteristik teori Van
Hiele dalam geometri yaitu:
1.
Berurutan,
yaitu seseorang harus melalui tahap-tahap belajar sesuai dengan urutannya.
Dalam hal ini siswa harus memahami tahap-tahap yang lebih rendah dulu, sehingga
siswa lebih mudah mengerti dalam belajar geometri. Misalnya untuk melanjutkan
ketahap yang ketiga, siswa harus lebih dulu memahami tahap yang kedua.
2.
Kemajuan,
yaitu keberhasilan dari tahap ketahap lebih banyak dipengaruhi oleh isi materi
pembelajaran dan metode pembelajaran daripada umur dan kematangan biologis.
3.
Objek
yang masih kurang jelas akan menjadi objek yang jelas pada tahap berikutnya.
Apabila
seorang siswa belum dapat memahami konsep geometri pada tahap tertentu, maka
siswa harus dibawa ketahap yang lebih rendah. Tanpa memahami tahap-tahap yang
lebih rendah maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar geometri. Begitu
pula sebaliknya apabila siswa telah memahami konsep geometri pada tahap
tertentu, maka siswa harus dibimbing terus ketahap yang lebih tinggi dari tahap
sebelumnya
2)
TAHAPAN
PEMAHAMAN GEOMETRI TEORI VAN HIELE
Van
Hiele (dalam Suwangsih dan Tiurlina 2010, hlm. 92) menyatakan bahwa terdapat 5
tahap belajar anak dalam belajar geometri, yaitu: tahap pengenalan, tahap
analisis, tahap pengurutan, tahap deduksi, dan tahap akurasi, berikut adalah
penguraiannya:
1.
Tahap Pengenalan (Visualisasi)
Pada
tahap ini anak mulai belajar mengenal suatu bentuk geometri secara keseluruhan,
namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri
yang dilihatnya itu. Sebagai contoh, jika pada anak diperlihatkan sebuah kubus,
maka ia belum mengetahui sifat-sifat atau keteraturan yang dimiliki oleh kubus
tersebut. Ia belum tahu bahwa kubus mempunyai sisi-sisi yang merupakan
bujusangkar, anak pun belum mengetahui bahwa bujursangkar (persegi) keempat
sisinya sama dan ke empat sudutnya siku-siku.
2.
Tahap Analisis
Pada
tahap ini anak sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki bangun geometri
yang diamatinya. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada
bangun Geometri itu. Misalnya pada saat ia mengamati persegi panjang, ia telah
mengetahui bahwa terdapat 2 pasang sisi yang berhadapan, dan kedua pasang sisi
tersebut saling sejajar. tapi tahap ini anak belum mampu mengetahui hubungan
yang terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya.
Misalnya anak belum mengetahui bahwa persegi adalah persegipanjang atau,
persegi itu adalah belah ketupat dan sebagainya.
3.
Tahap Pengurutan (Deduksi Informal)
Pada
tahap ini anak sudah mulai mampu melaksanakan penarikan kesimpulan yang kita
kenal dengan sebutan berfikir deduktif. Namun kemampuan ini belum berkembang
secara penuh. Satu hal yang perlu diketahui adalah, anak pada tahap ini sudah
mulai mampu mengurutkan. Misalnya ia sudah mengenali bahwa persegi adalah
jajaran genjang, bahwa belah ketupat adalah layang-layang. Demikian pula dalam
pengenalan benda-benda ruang, anak-anak memahami bahwa kubus adalah balok juga,
dengan keistimewaannya yaitu bahwa semua sisinya berbentuk persegi. Pola pikir
anak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatu
persegi panjang itu sama panjangnya. Anak mungkin belum memahami bahwa belah
ketupat dapat dibentuk dari dua segitiga yang kongruen.
4.
Tahap Deduksi
Dalam
tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaitu penarikan
kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus.
Demikian pula ia telah mengerti betapa pentingnya peranan unsur-unsur yang
tidak didepinisikan, di samping unsur-unsur yang didepinisikan. Misalnya anak
sudah mulai memahami dalil. selain itu, pada tahap ini anak sudah mulai mampu
mengggunakan aksioma atau postulat yang digunakan dalam pembuktian. tetapi anak
belum mengerti mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil.
5.
Tahap Akurasi
Dalam tahap ini anak sudah mulai
menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi
suatu pembuktian. Misalnya, ia mengetahui pentingnya aksioma-aksioma atau
postulat-postulat dari geometri Euclid.
Tahap akurasi merupakan tahap berfikir yang tinggi, rumit, dan kompleks. Oleh
karena itu tidak mengherankan jika tidak semua anak, meskipun sudah duduk di
bangku sekolah lanjutan atas, masih belum sampai pada tahap berfikir ini.
Mayberry
(dalam Ruseffendi 1998, hlm. 164) mengatakan bahwa bila pada salah satu tahap
dari kelima tahap itu siswa tidak menguasai, maka pada tahap yang lebih tinggi
akan terjadi penghafalan.
3)
TAHAPAN
PEMBELAJARAN GEOMETRI MENURUT VAN HIELE
Menurut
D’Augustine dan Smith (1992 : 227), Crowley (1987 : 5) (dalam Nur’aeni 2008 :
128) menyatakan bahwa: “kemajuan tingkat berfikir geometri siswa maju dari satu
tingkatan ke tingkatan berikutnya melibatkan lima tahapan atau sebagai hasil
dari pengajaran yang terorganisir ke lima tahap pembelajaran. Kemajuan dari
satu tingkat ke tingkat berikutnya lebih bergantung pada pengalaman
pendidikan/pembelajaran ketimbang pada usia atau kematangan. Sejumlah
pengalaman dapat mempermudah (atau menghambat) kemajuan dalam satu tingkat atau
ke satu tingkat yang lebih tinggi”.
Adapun
tahap – tahap Van Hiele tersebut
digambarkan sebagai berikut ini:
Tahap 1 Informasi (Information): Melalui diskusi, guru mengidentifikasi apa yang sudah
diketahui siswa mengenai sebuah topik dan siswa menjadi berorientasi pada topik
baru itu. Guru dan siswa terlibat dalam percakapan dan aktifitas mengenai
objek-objek, pengamatan dilakukan, pertanyaan dimunculkan dan kosakata khusus
diperkenalkan.
Tahap 2 Orientasi Terarah/Terpadu (Guided Orientation): Siswa menjajaki objek-objek
pengajaran dalam tugas-tugas yang distrukturkan secara cermat seperti
pelipatan, pengukuran, atau pengkonstruksian. Guru memastikan bahwa siswa
menjajaki konsep-konsep spesifik.
Tahap 3 Eksplisitasi (Explicitation): Siswa menggambarkan apa yang telah mereka pelajari
mengenai topik dengan kata-kata mereka sendiri, guru membantu siswa dalam
menggunakan kosa kata yang benar dan akurat, guru memperkenalkan
istilah-istilah matematika yang relevan.
Tahap 4 Orientasi Bebas (Free Orientation): Siswa menerapkan hubungan-hubungan
yang sedang mereka pelajari untuk memecahkan soal dan memeriksa tugas yang lebih terbuka (open-ended)
Tahap 5 Integrasi
(Integration):
Siswa meringkas/membuat ringkasan dan mengintegrasikan apa yang telah
dipelajari, dengan mengembangkan satu jaringan baru objek-objek dan
relasi-relasi.
4.
TEORI
BELAJAR VYGOTSKY
1) TEORI
BELAJAR VYGOTSKY
Teori
Belajar Vygotsky Teori Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia
sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan
budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti
ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan
temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat
ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan
bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.
Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam
memudahkan perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan
fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan
memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang
lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi
mental yang lebih tinggi ini dianggap sebagai ”alat kebudayaan” tempat individu
hidup dan alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada
anak-anak oleh anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama pengalaman
pembelajaran yang dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur
menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia.
Karena itulah berpikir setiap anak dengan cara yang sama dengan anggota lain
dalam kebudayaannya. Menurut vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam
keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Informasi tentang
alat-alat, keterampilan-keterampilan dan hubungan-hubungan interpersonal
kognitif dipancarkan melalui interaksi langsung dengan manusia. Melalui
pengorganisasian pengalaman-pengalaman interaksi sosial yang berada di dalam
suatu latar belakang kebudayaan ini, perkembangan mental anak-anak menjadi
matang. Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa
konsep melalui pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh
lebih berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan
pernah mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.
Vygotsky mencari pengertian bagaimana anak-anak berkembang dengan melalui
proses belajar, dimana fungsi-fungsi kognitif belum matang, tetapi masih dalam
proses pematangan. Vygotsky membedakan antara aktual development dan potensial
development pada anak. Actual development ditentukan apakah seorang anak dapat
melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa atau guru. Sedangkan potensial
development membedakan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu, memecahkan
masalah di bawah petunjuk orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.
Menurut teori Vygotsky, Zone of proximal developmnet merupakan celah antara
actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak
dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak
dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman
sebaya. Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat
memudahkan perkembangan anak. Ketika siswa mengerjakan pekerjaanya di sekolah
sendiri, perkembangan mereka kemungkinan akan berjalan lambat. Untuk
memaksimalkan perkembangan, siswa seharusnya bekerja dengan teman yang lebih
terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang
lebih kompleks. Teori Vygotsky yang lain adalah “scaffolding“. Scaffolding
merupakan suatu istilah pada proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun
anak-anak melalui Zone of proximal developmentnya. Scaffolding adalah
memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap - tahap
awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan
kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin
besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru
dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk
lain yang memungkinkan siswa dapat mandir
2) PRINSIP
MENURUT VYGOTSKY
Vygotsky mengemukakan empat prinsip seperti
berikut:
1. Pembelajaran Sosial (Social Learning). Vygotsky menyatakan bahwa siswa
belajar melalui interaksi bersama dengan orang dewasa yang lebih cakap.
2. ZPD (Zone of Proximal Development). Bahwa siswa akan dapat mempelajari
konsep-konsep dengan baik jika berada dalam ZPD.
3. Masa Magang Kognitif (Cognitive Apprenticeship). Suatu proses yang
menjadikan anak sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui
interaksi dengan orang yang lebih ahli, orang dewasa, atau teman yang lebih
pandai.
4. Pembelajaran Termediasi (Mediated Learning). Vygotsky menekankan pada
scaffolding. Scaffolding berarti memberikan kepada anak sejumlah besar dukungan
selama tahap-tahao awal pembelajaran.
3) PENERAPAN TEORI BELAJAR VYGOTSKY
Penerapan Teori Belajar Vygotsky
Dalam Interaksi Belajar Mengajar Penerapan teori belajar Vygotsky dalam
interaksi belajar mengajar mungkin dapat dijabarkan sebagai berikut : 1.
Walaupun anak tetap dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus secara aktif
mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoritis, ini berarti
anak-anak bekerja dalam Zone of proximal developmnet dan guru menyediakan
scaffolding bagi anak selama melalui ZPD. 2. Secara khusus Vygotsky
mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada
perkembangan kognitif anak, kerja kelompok secara kooperatif tampaknya
mempercepat perkembangan anak. 3. Gagasan tentang kelompok kerja kreatif ini
diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya (peer tutoring), yaitu
seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal dalam pelajaran. Satu
anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati ZPD karena mereka
sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bisa dengan mudah melihat
kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang
sesuai.
0 komentar:
Posting Komentar